Posted in Life

Writing Through The Ages : How Technology Shapes The Way I Write My Stories

Technology has shaped our life. That is inevitable. From the way we interact with each other to the way we cook, technology has played a part to change how we usually do things in our daily life. 

As an author, I feel that technology also has changed how I write down my imagination. Since I am a 90’s kid, here is how my writing tools have changed in all these years:

Continue reading “Writing Through The Ages : How Technology Shapes The Way I Write My Stories”

Advertisements
Posted in Life, Opinion

Uber and Its Complexity in Indonesia

I have used Uber since early 2017 in Jakarta. In the same time, I also tried Grab and Gojek. Overtime, I prefer to ride with Uber because it was cheaper and the drivers mostly were polite, also sometimes there were free face mask and head cover for customer. However, since Grab was the only one which had in-app chat at that time, eventually I moved to this app and left Uber for nearly half of year.

Recently, I was tempted to try Uber again after getting a promotion offer on my email. I saw that Uber changed slightly because now there were a rating system for customer and in-app chat. Unfortunately the drivers didn’t change to be better.

Continue reading “Uber and Its Complexity in Indonesia”

Posted in Life

Sangat Kecewa dengan Lottemart Ratu Plaza Jakarta

Pada Rabu, 18 Januari 2017, saya berbelanja di Lottemart Ratu Plaza, Jakarta, sekitar sore hari. Setelah membeli satu botol air mineral, saya menuju mushola di sebelah Lottemart untuk sholat. Setelah itu saya kembali ke Lottemart untuk berbelanja 1 kg tepung terigu yang tadinya lupa saya beli. Sehabis itu saya kembali ke plaza di lantai atas untuk cari makan dan karena tidak berhasil menemukan makanan yang sesuai selera, saya kembali lagi ke Lottemart untuk makan di sana. 

Usai makan, saya hendak keluar namun dihentikan oleh satpam. Saat itu barang bawaan saya adalah tas plastik berlambang Lottemart dan satu tas cangklong. Saya heran kenapa dihentikan. Saya tanya, apakah alarmnya berbunyi. Satpam tersebut menjawab “tidak” namun lantas memeriksa tas plastik Lottemart saya. 

Di dalamnya ada tepung terigu dan air mineral yang tadi saya beli di Lottemart, juga satu botol kecil air mineral merk lain yang saya bawa dari rumah, dan arloji saya. Satpam tersebut menanyakan struk untuk masing-masing barang. Struk untuk tepung terigu dan struk makan ada, tapi struk air mineral tidak ada karena sudah saya buang. Saat pembelian, memang tidak disertakan tas plastik karena saya hanya membeli satu barang jadi struknya otomatis saya buang. Rekaman pembelanjaan tersebut bisa dicek di CCTV, dengan kasir bertubuh tambun yang saat itu sedang menghitung uang. Lalu saya juga menjelaskan botol air mineral kecil dan arloji itu milik saya pribadi. 

Namun satpam tidak begitu saja percaya pada penjelasan saya dan mempermasalahkan ketiadaan struk dua botol air mineral tersebut. Sepertinya dia beranggapan bahwa saya telah mengambilnya begitu saja dari dalam, apalagi mungkin penampilan saya dengan memakai jaket ala mahasiswa dan belanjaan yang sedikit membuat saya terlihat seperti tidak punya uang. Saya sudah menyebutkan harga botol air mineral yang saya beli dan menantangnya untuk mengecek sendiri ke dalam untuk membuktikan bahwa saya benar-benar membeli salah satu air mineral tersebut. Sementara untuk air mineral yang botol kecil, saya sudah bilang bahwa saya bawa sendiri dari rumah. Saya tidak tahu bahwa ada kebijakan dari Lottemart untuk melabeli air mineral dari luar. Saya tidak diperiksa begitu masuk karena botol kecil itu saya taruh di tas cangklong saya. Untuk mengurangi berat tas cangklong dan kebetulan ada tas plastik Lottemart yang agak kosong, pada saat hendak keluar, saya letakkan semua barang yang kurang diperlukan di tas plastik tersebut, buktinya juga ada arloji saya di dalamnya, yang untungnya tidak dipermasalahkan karena tidak ada produk sejenis di Lottemart.

Namun satpam tersebut tetap ngotot mempermasalahkan hal ini, padahal ini hanya air mineral dengan harga kurang lebih dua ribu rupiah masing-masingnya, bukan barang mewah berharga jutaan rupiah, bahkan memanggil seseorang dari manajemen. Staff tersebut juga menyudutkan saya seolah saya sudah benar-benar mencuri dua botol air mineral tersebut. Saya lantas menantang untuk mengecek di CCTV, namun staff tersebut berkilah bahwa tidak ada CCTV di bagian air. Dia menyuruh saya membuat BAP di bagian sekuriti dan berkata boleh saja kalau saya tidak mau mengakui perbuatan saya. Saya menjadi emosi dengan hal ini. Bagaimana saya bisa mengakuinya kalau saya tidak berbuat hal tersebut? 

Continue reading “Sangat Kecewa dengan Lottemart Ratu Plaza Jakarta”

Posted in Islam, Life

Mission Accomplished : Khatam Al-Quran

Alhamdulillah, pada bulan Ramadhan 1437 H kali ini saya berhasil menuntaskan misi pribadi yaitu mengkhatamkan Al-Quran.

image

Misi ini sebagai lanjutan dari keberhasilan misi tahun lalu yaitu menyelesaikan 22 juz dalam bulan Ramadhan. Misi ini berhasil tercapai dalam 20 hari dengan rata-rata menyelesaikan 1,5 juz sehari.
Awalnya memang berat. Hari-hari pertama Ramadhan hanya bisa menyelesaikan 1 juz lebih sedikit, dibagi lima waktu shalat. Memang saya biasanya membaca Al-Quran setelah shalat lima waktu. Namun pelan-pelan bacaan saya semakin banyak.
Dari awalnya hanya bisa 50 ayat sekali baca, lalu berikutnya bertambah jadi 80 ayat, terus berkembang menjadi 100 ayat, dan lama-lama bisa juga baca 1 juz dalam sekali baca. Waktu yang diperlakukan untuk membaca 1 juz ternyata tidak selama dugaan saya. Dengan bacaan Al-Quran saya yang biasa saja, saya bisa menyelesaikan 1 juz Al-Quran dalam kurun waktu kurang-lebih 1 jam. Target 1,5 juz sehari pun bisa dipenuhi bahkan terlampaui. Continue reading “Mission Accomplished : Khatam Al-Quran”