Posted in Opinion

(Student) Loan for Life? No, Thanks!

Jika suatu pihak yang membiayai pendidikan Anda sejak SMA sampai universitas lantas meminta imbal-balik berupa 20% penghasilan Anda seumur hidup, bersediakah Anda? Kalau itu adalah saya, maka jawabannya adalah TIDAK.

image

Berawal dari sekedar browsing, saya menemukan sebuah artikel di internet (Baca di sini :  Jebakan Bantuan Pendidikan Sampoerna Academy (Akademi Siswa Bangsa Internasional) ). Di sana seorang netizen mengeluhkan tentang Putera Sampoerna Foundation (PSF) yang awalnya dikira memberi beasiswa namun belakangan ternyata peserta didik harus mengganti seluruh biaya pendidikan dengan jumlah yang sangat tinggi. Rupanya yayasan ini menggunakan skema student loan atau pinjaman siswa seperti yang ada di luar negeri, dimana siswa yang membutuhkan akan dipinjami uang untuk menempuh pendidikannya yang mana nantinya biaya itu harus dikembalikan. Di Indonesia, selain PSF, ada Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) Cilacap dan Surya University yang menerapkan hal ini.
Sayangnya, di Indonesia, konsep itu masih tidak umum, bahkan mungkin banyak orangtua yang tidak paham dan mengira bahwa ini adalah bantuan yang tanpa syarat. Apalagi bila istilah yang digunakan adalah “bantuan biaya pendidikan” dan bukannya “pinjaman pendidikan”. Sang anak yang kebanyakan berasal dari keluarga tidak mampu dan ingin menempuh pendidikan yang bagus pun menganggap ini adalah kesempatan untuk memperbaiki nasib, padahal hutang akan menjerat dirinya hampir untuk seluruh masa produktifnya.
Berdasarkan dokumen yang diperoleh netizen pada 2014 (Baca di sini : Siswa SMA SAMPOERNA (ASBI) Diarahkan Masuk USBI, Utang Ratusan Juta Rupiah Menanti ), untuk bisa menempuh pendidikan di Akademi Siswa Bangsa Internasional (ASBI) / Sampoerna Academy yang merupakan tingkat SMA, biaya yang harus dibayarkan kembali adalah Rp.150.000.000. Sementara untuk bisa kuliah di Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) / Sampoerna University, jumlah giving back yang harus diberikan jauh lebih besar lagi, mencapai Rp.802.006.698 (Baca di sini : Geger Putera Sampoerna Foundation (1): Kisah lulusan yang ternyata menanggung utang Rp 800 juta! ). Berikut rinciannya:
image

Total biaya pendidikan sebesar Rp.390.913.150 harus ditambahi dengan biaya pengadaan dana (bisakah kita sebut bunga?) sebesar 65% dari total biaya pendidikan, belum lagi ada biaya kontribusi sebesar Rp.150.000.000 dan biaya admin sebesar Rp. 7.000.000. Bahkan total biaya tambahannya melebihi biaya pendidikannya yaitu sebesar Rp.411.093.548. Itu artinya peserta didik harus membayar kembali biaya pendidikannya plus “bunga” yang mencapai lebih dari 105%! Sangat luar biasa besar bukan?
Sementara untuk bisa mengecap dua jenjang pendidikan baik di ASBI dan USBI, PSF meminta imbal-balik mencapai hampir satu milyar dengan biaya tambahan yang mencapai 75% dari total biaya pendidikannya! Berikut keterangan rinciannya dalam gambar.

image

Itu adalah pengembalian pinjaman yang besar sekali. Pantaslah kalau cicilannya bahkan diprediksi baru bisa dilunasi setelah bekerja selama 30-an tahun, yang mencakup hampir seluruh masa produktif seorang manusia! Simulasi cicilan hutangnya terdapat dalam gambar berikut:

image

Menurut perjanjian resmi, hutang ini harus dicicil minimal sebesar 20% dari gaji yang diterima setiap bulan setelah enam bulan lulus dari pendidikan, sebagaimana yang tercantum dalam dokumen berikut :

image

Padahal menurut saya kalau memang ini pinjaman bagi siswa kurang mampu, seharusnya tidak perlu biaya pengadaan, biaya kontribusi, atau biaya admin. Cukup total biaya pendidikannya saja. Jika ditambahi dengan berbagai biaya tambahan bahkan sampai melebihi biaya utamanya, maka malah akan mengaburkan unsur kepedulian dan tolong-menolongnya.
Dalam wawancaranya dengan Jakarta Post (Baca di sini : Banking on equities of leadership and social business) Putra Sampoerna, pendiri yayasan tersebut berkata seperti ini :

These students are the smartest, the hungriest and come from the poorest families. We have them in our boarding school for three years so we can instill our value system into their DNA. The values are leadership, entrepreneurship, and giving back to society. That is why I insist they must be at the boarding school.

Jadi memang sepertinya sasaran program ini adalah anak-anak pintar dari keluarga kurang mampu yang dimasukkan ke boarding school/sekolah berasrama agar nilai-nilai yang diinginkan bisa diserap maksimal oleh anak-anak tersebut, termasuk nilai memberi imbal-balik. Ada lagi.

I do not give scholarships for my students. They have to pay me back a total of US$ 15,000 spent for the three years in the academy.
This is because I have invested in, let’s say, you, a student from a poor village. I call it an equity investment. I will support you through school and find other people to support you through school. As soon as you get a job, I’m entitled to 20 percent of your income throughout your life. If you say 20 percent is too high and so on, I would say why? I have taken a risk in you for 8 years. If I take you in or you do not finish school, then what? I have lost my investment, haven’t I?

Jadi para peserta didik ini dianggap sebagai investasi begitu? Apalagi ada embel-embel bahwa para penerima bantuan itu harus membayarnya kembali seumur hidup. Itu yang diri saya tidak bisa terima.
Masa bantuan selama beberapa tahun harus saya bayar seumur hidup? No…no…no…
Bukannya tidak mau memberi imbal-balik pada lingkungan, tapi menurut saya itu tidak fair. Apa yang saya dapatkan tidak sepadan dengan apa yang harus saya berikan. Saya menolak dijadikan sebuah “investasi”. Jika toh nantinya saya sukses karena suatu bantuan pendidikan, misalnya, maka saya akan membantu yayasan tersebut atau yang lain semampu dan seikhlas saya, bukannya terpaksa apalagi dalam tempo seumur hidup. Kalau sistemnya seperti ini, maka wajar bila lantas ada pihak-pihak yang kurang setuju, bahkan sampai-sampai seorang netizen menyebutnya sebagai “perbudakan” (Baca di sini : Putera Sampoerna – Slave Trader? ).
Keberlangsungan sebuah yayasan pendidikan juga biasanya dibantu oleh donor atau dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan besar dan PSF rupanya bukan pengecualian. Begini menurut Putera Sampoerna dalam wawancaranya dengan media di atas:

Now, we get donations from different companies, such as ExxonMobil Corporation who gave us around US$ 3.15 million to support 200 students for three years, whom I bond Exxon with. It costs our academy US$ 5,000 per student and I hope that the sponsor will continue investing in the education of the students up to the tertiary level.

Menurut saya sangat mungkin donor tersebut tidak meminta uangnya kembali. Tapi jika uang itu lantas “diputar” dengan cara meminjamkannya kepada peserta didik yang membutuhkan apalagi dengan “bunga” yang sangat besar sampai mencapai lebih 105%, maka menurut saya itu malah memberatkan dan membuat saya semakin tidak ingin bergabung dengan yayasan pemberi student loan seperti ini. Pendiri PSF mengatakan bahwa institusinya memiliki model bisnis sosial yang definisinya adalah sebagai berikut:

…social business does not see itself as a “charitable” organization, which is totally dependent on donations for its continued existence. It looks at all of its activities as any business would, with sustainability, professionalism, or non-volunteerism, and revenue growth over the long term as its primary goal.

Karena yayasan semacam PSF ini tetap ada unsur mencari keuntungan untuk keberlangsungannya, maka akan jauh lebih baik jika saya menggantungkan masa depan saya kepada lembaga amal yang murni non-profit. Masih ada sangat banyak lembaga nonprofit di dunia ini yang mau membantu sesama termasuk di bidang pendidikan tanpa ada kewajiban harus memberikan imbal-balik dalam jangka waktu tertentu, contohnya saja lembaga pemberi beasiswa murni yang bertebaran di seluruh jagat ini.
Saya tidak melihat ini sebagai “manja” tapi mengedepankan pada sisi rasionalnya. Akan banyak sekali kebutuhan saya ke depannya dan 20% penghasilan saya seumur hidup akan sangat bermanfaat jika bisa saya kelola sendiri sesuai kebutuhan. Pos donasi tentu ada, termasuk untuk membantu adik-adik saya yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang berkualitas, tapi jumlah dan tempo pemberiannya semestinya bisa disesuaikan dengan kemampuan saya. Toh student loan bukan satu-satunya yang bisa memberikan seseorang kesempatan untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi, kan?
Apalagi kebetulan saya tidak menganut istilah “berhutang pangkal sukses”. Sejak dulu saya sangat tidak suka berhutang dan alhamdulillah tidak punya hutang sampai sekarang. Kalau tidak mampu membayar sesuatu (termasuk untuk pengobatan) maka saya akan mencari alternatif atau menabung. Di samping itu, dalam agama Islam yang saya anut, meminjam uang dengan dikenai tambahan bisa dikategorikan sebagai riba yang tentunya haram.
Jika saya terlahir pintar dan kurang beruntung, maka daripada mencari student loan, saya akan mencari BEASISWA. Ada begitu banyak beasiswa yang tidak mengharuskan penerimanya memotong gajinya 20% seumur hidup. Contohnya Bidikmisi, LDPP, BBM, PPA, Talent Scourcing, dan banyak lagi dari pemerintah. Ingin tantangan? Bisa daftar beasiswa dari luar negeri seperti Monbukagakusho/ MEXT dari Jepang, Fullbright dari Amerika, Chevening dari Inggris, Turkiye Burslari dari Turki, Australia Awards dari Australia, dll. Bahkan Singapura menawarkan beasiswa dari tingkat SMP, yaitu Asean Scholarship for Indonesian. Apalagi kalau si anak benar-benar pintar seperti klaim di atas, maka akan mudah mendapatkan beasiswa dari lembaga-lembaga nonprofit tersebut.
It is not too good to be true! Bukan mustahil di zaman edan seperti sekarang untuk bisa mendapatkan pendidikan berkualitas secara gratis di luar negeri karena sudah sangat banyak pihak yang membuktikannya (Baca di sini PENGALAMAN KULIAH S2 DI BERN, SWISS ).
Karena itu, saya harap semua pihak berhati-hati dengan istilah “bantuan biaya pendidikan” apalagi dari yayasan Putra Sampoerna Foundation, Yayasan Sosial Bina Sejahtera Cilacap dan Surya University. Siapa tahu “bantuan” yang dimaksud adalah student loan atau pinjaman pendidikan yang nantinya harus dikembalikan.
Terlebih PSF memiliki akademi di banyak kota yang rutin menjaring siswa dari provinsi-provinsi di seluruh Indonesia (Baca di sini : 100 Siswa 12 provinsi Masuk Sampoerna Academy Boarding School ). Diantaranya Sampoerna Academy Boarding School di Bogor yang tahun 2016 ini juga menerima peserta didik (Baca di sini : Siswa Yang Diterima Di Sampoerna Academy Boarding School TP. 2016/2017 ). Di situ dicantumkan bahwa para peserta didik akan langsung melanjutkan ke Universitas Akademi Sampoerna yang mungkin termasuk student loan. Perwakilan Universitas Sampoerna pernah menyampaikan mekanisme tersebut dalam salah satu wawancaranya (Baca di sini : Universitas Siswa Bangsa Internasional, The Sampoerna University: Kampus Baru yang Kian Maju )

Untuk saat ini, dana bantuan pendidikan diperuntukan untuk siswa-siswi dari keluarga prasejahtera yang bersekolah di ASBI, the Sampoerna Academy dan kemudian melanjutkan ke USBI, the Sampoerna University.
Dana bantuan pendidikan ini merupakan bantuan yang diberikan selama mereka besekolah di ASBI, the Sampoerna Academy hingga kuliah di USBI, the Sampoerna University. Ketika mereka lulus kuliah dan sudah bekerja, mereka dapat melakukan giving back dengan mengembalikan dana bantuan pendidikan yang mereka peroleh ke Koperasi Siswa Bangsa.

Oleh sebab itu menurut saya alangkah baiknya kalau sebelum tanda tangan kontrak dengan pemberi bantuan biaya pendidikan manapun, orangtua dan siswa membaca kontraknya dengan detail sampai pada kata per kata dan meminta keterangan sejelas-jelasnya kepada pihak-pihak terkait agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Menempuh pendidikan di yayasan seperti Putra Sampoerna Foundation ini sama sekali tidak gratis, bahkan bisa membuat para peserta didiknya harus menanggung hutang yang luar biasa besarnya.
Jadi silakan tanyakan pada diri sendiri, apa bersedia mencicil hutang sebesar itu setelah lulus dari pendidikan, bahkan dengan mekanisme seperti potongan gaji 20% selama masa produktif? Jika saya yang ditawari student loan semacam itu, yang mengharuskan saya nantinya memotong penghasilan saya selama 20% seumur hidup, maka dengan tegas saya akan berkata, “no, thanks!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s