Posted in Islam, Life, Opinion

[Review] Ketika Cinta Bergema dalam Film 212 : The Power of Love

Saya termasuk orang yang sangat jarang pergi ke bioskop. Bahkan dalam setahun, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya memasuki movie theatre untuk menonton film yang lagi populer. Entah kenapa saya tidak pernah menjadikan nonton bioskop sebagai bagian dari gaya hidup meski kebetulan sedang berdomisili di kota besar.

Mungkin ini terpengaruh dari kecenderungan saya yang kurang menyukai media audiovisual sebagai cara menyampaikan sebuah cerita. Entah didukung oleh kesukaan saya menulis atau tidak, tapi saya lebih merasa dapat “feel”-nya ketika menelaah suatu kisah melalui media literatur. Terbukti saat film “Harry Potter” dirilis, saya termasuk salah satu penggemar yang kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi saat membaca novelnya.

Namun kali ini berbeda. Continue reading “[Review] Ketika Cinta Bergema dalam Film 212 : The Power of Love”

Advertisements
Posted in Life

Writing Through The Ages : How Technology Shapes The Way I Write My Stories

Technology has shaped our life. That is inevitable. From the way we interact with each other to the way we cook, technology has played a part to change how we usually do things in our daily life. 

As an author, I feel that technology also has changed how I write down my imagination. Since I am a 90’s kid, here is how my writing tools have changed in all these years:

Continue reading “Writing Through The Ages : How Technology Shapes The Way I Write My Stories”

Posted in Life, Opinion

Uber and Its Complexity in Indonesia

I have used Uber since early 2017 in Jakarta. In the same time, I also tried Grab and Gojek. Overtime, I prefer to ride with Uber because it was cheaper and the drivers mostly were polite, also sometimes there were free face mask and head cover for customer. However, since Grab was the only one which had in-app chat at that time, eventually I moved to this app and left Uber for nearly half of year.

Recently, I was tempted to try Uber again after getting a promotion offer on my email. I saw that Uber changed slightly because now there were a rating system for customer and in-app chat. Unfortunately the drivers didn’t change to be better.

Continue reading “Uber and Its Complexity in Indonesia”

Posted in Opinion

Hargailah Perasaan Karyawan Anda….

Alkisah sebuah IP consultant di Jakarta memiliki seorang manager yang katanya bisa menghasilkan sales yang banyak. Manajer tersebut adalah seorang perempuan setengah baya dengan pakaian yang sopan. Sekilas semua penampilan dirinya terlihat mengesankan, akan tetapi anehnya karyawannya tidak ada yang bertahan lama. Semuanya pada resign bahkan pada satu kesempatan setengah dari karyawan di situ adalah karyawan baru.

Usut punya usut, ternyata si manager tersebut doyan mengumpat dengan kalimat-kalimat yang kotor meski karyawannya hanya melakukan kesalahan yang sepele. Kadang hal yang tidak diketahui karyawan pun dijadikan sasaran amarah yang dahsyat. Seolah-olah ketidaktahuan adalah dosa dan pastilah disengaja sehingga karyawan tersebut wajib dicaci-maki. Maka tak heran jika lantas semua karyawannya resign satu-persatu. 

Continue reading “Hargailah Perasaan Karyawan Anda….”

Posted in Tips

Tips Menghadapi Wabah Flu

Sakit flu memang cukup mengganggu. Dan parahnya, begitu satu orang saja kena flu, maka lingkungan sekitarnya juga akan ikut terkena dampaknya. Orang sekantor, sekelas, sekost atau serumah akan sangat berpotensi untuk terjangkit sakit flu secara bersama-bersama hingga akhirnya menyebabkan terjadinya wabah flu. Lalu adakah cara untuk survive dari wabah flu ini sementara kita harus berada di area tersebut, misalnya di kantor atau sekolah? Simak tips berikut ini!

Continue reading “Tips Menghadapi Wabah Flu”

Posted in Life

Sangat Kecewa dengan Lottemart Ratu Plaza Jakarta

Pada Rabu, 18 Januari 2017, saya berbelanja di Lottemart Ratu Plaza, Jakarta, sekitar sore hari. Setelah membeli satu botol air mineral, saya menuju mushola di sebelah Lottemart untuk sholat. Setelah itu saya kembali ke Lottemart untuk berbelanja 1 kg tepung terigu yang tadinya lupa saya beli. Sehabis itu saya kembali ke plaza di lantai atas untuk cari makan dan karena tidak berhasil menemukan makanan yang sesuai selera, saya kembali lagi ke Lottemart untuk makan di sana. 

Usai makan, saya hendak keluar namun dihentikan oleh satpam. Saat itu barang bawaan saya adalah tas plastik berlambang Lottemart dan satu tas cangklong. Saya heran kenapa dihentikan. Saya tanya, apakah alarmnya berbunyi. Satpam tersebut menjawab “tidak” namun lantas memeriksa tas plastik Lottemart saya. 

Di dalamnya ada tepung terigu dan air mineral yang tadi saya beli di Lottemart, juga satu botol kecil air mineral merk lain yang saya bawa dari rumah, dan arloji saya. Satpam tersebut menanyakan struk untuk masing-masing barang. Struk untuk tepung terigu dan struk makan ada, tapi struk air mineral tidak ada karena sudah saya buang. Saat pembelian, memang tidak disertakan tas plastik karena saya hanya membeli satu barang jadi struknya otomatis saya buang. Rekaman pembelanjaan tersebut bisa dicek di CCTV, dengan kasir bertubuh tambun yang saat itu sedang menghitung uang. Lalu saya juga menjelaskan botol air mineral kecil dan arloji itu milik saya pribadi. 

Namun satpam tidak begitu saja percaya pada penjelasan saya dan mempermasalahkan ketiadaan struk dua botol air mineral tersebut. Sepertinya dia beranggapan bahwa saya telah mengambilnya begitu saja dari dalam, apalagi mungkin penampilan saya dengan memakai jaket ala mahasiswa dan belanjaan yang sedikit membuat saya terlihat seperti tidak punya uang. Saya sudah menyebutkan harga botol air mineral yang saya beli dan menantangnya untuk mengecek sendiri ke dalam untuk membuktikan bahwa saya benar-benar membeli salah satu air mineral tersebut. Sementara untuk air mineral yang botol kecil, saya sudah bilang bahwa saya bawa sendiri dari rumah. Saya tidak tahu bahwa ada kebijakan dari Lottemart untuk melabeli air mineral dari luar. Saya tidak diperiksa begitu masuk karena botol kecil itu saya taruh di tas cangklong saya. Untuk mengurangi berat tas cangklong dan kebetulan ada tas plastik Lottemart yang agak kosong, pada saat hendak keluar, saya letakkan semua barang yang kurang diperlukan di tas plastik tersebut, buktinya juga ada arloji saya di dalamnya, yang untungnya tidak dipermasalahkan karena tidak ada produk sejenis di Lottemart.

Namun satpam tersebut tetap ngotot mempermasalahkan hal ini, padahal ini hanya air mineral dengan harga kurang lebih dua ribu rupiah masing-masingnya, bukan barang mewah berharga jutaan rupiah, bahkan memanggil seseorang dari manajemen. Staff tersebut juga menyudutkan saya seolah saya sudah benar-benar mencuri dua botol air mineral tersebut. Saya lantas menantang untuk mengecek di CCTV, namun staff tersebut berkilah bahwa tidak ada CCTV di bagian air. Dia menyuruh saya membuat BAP di bagian sekuriti dan berkata boleh saja kalau saya tidak mau mengakui perbuatan saya. Saya menjadi emosi dengan hal ini. Bagaimana saya bisa mengakuinya kalau saya tidak berbuat hal tersebut? 

Continue reading “Sangat Kecewa dengan Lottemart Ratu Plaza Jakarta”

Posted in Opinion

Wanita Indonesia dan Definisi Kesuksesan

Wanita Indonesia sudah mulai berpikiran modern saat ini. Banyak di antara mereka yang mengecap pendidikan sampai ke jenjang yang tertinggi dan menempati posisi-posisi penting baik di institusi swasta maupun pemerintahan. 

Namun sayangnya, kadang banyak kaum wanita yang beranggapan bahwa menjadi sukses hanyalah berorientasi pada materi belaka. Definisi sukses sering disamakan dengan kemampuan untuk meraih pendidikan atau jenjang karier yang setinggi-tingginya. Uang kerap kali menjadi tolak ukur kesuksesan seorang wanita. Rasanya sudah “setara” dengan laki-laki bila bisa duduk sama rata dan sama rasa secara materiil.

Akibatnya, tidak sedikit yang lantas mengorbankan kehidupan pribadinya, misalnya keluarga, demi meraih “kesuksesan” yang diyakininya ini. Ada yang menunda berkeluarga hingga usia yang terlampau matang demi ambisi mengejar pendidikan atau karier. Ada pula yang sudah berkeluarga namun ketika dikaruniai keturunan, maka buah hatinya itu dititipkan sepenuhnya pada pihak lain. Sekedar memenuhi kebutuhan anak secara materi sudah dianggap cukup bagi mereka. Bahkan sampai ada yang tidak dikenal oleh anaknya sendiri dan dipanggil “Tante” bila pulang ke rumah saking sibuknya.

Menurut saya, menjadi seorang wanita Indonesia yang sukses bukanlah dengan cara sepenuhnya melupakan kodratnya. Manusia di muka bumi ini bisa terus eksis akibat adanya keberlanjutan dari generasi sebelumnya, karena itu alangkah sayangnya jika mengorbankan kualitas generasi yang akan datang demi mengejar materi yang tidak akan ada habisnya itu. Kodrat seorang wanita adalah menjadi seorang ibu, karena itu meskipun zaman sudah berubah, maka seyogyanya hal tersebut tidak ikut mengikis peranan wanita dalam membentuk sebuah keluarga.

Continue reading “Wanita Indonesia dan Definisi Kesuksesan”